Tuesday, September 3, 2019

Pentingnya Berbagi Kebahagiaan Kepada Sesama


 Manusia di ciptakan di dunia ini untuk saling krterkaitan, mulai dari saling mengasihi, tolong menolong dan saling berbagi kepada sesama. Namun kadangkala kita memang terlalu asyik dengan apa yang ada pada diri kita sendiri. Dari persoalan-persoalan pribadi, rutinitas kerja, harta, dan kesenangan-kesenangan yang membuat kita lupa semua bahwa masih banyak sekali orang yang sangat membutuhkan uluran tangan dari kita. 
 Sungguh sangat ironis memang jika kita mengingat bahwa sejak Sekolah Dasar pun kita sudah dikenalkan dengan istilah makhluk sosial, dimana manusia tidak dapat hidup sendiri dan saling tergantung dengan orang lain. Tapi itulah kenyataannya yang terjadi dalam kehidupan, bahwa kita seringkali tidak peka terhadap sesama kita.   Sekarang ini kita lihat dengan mata terbuka bahwa semakin jarang orang yang mau mengulurkan tangannya atau berbgai untuk membantu sesamanya. Dari contoh yang paling kecil saja, seringkali kita bersikap acuh tak acuh terhadap sesama manusia.  Banyak sekali di luar sana orang yang mencari nafkah dari mulai pengemis, pengamen sampai anak jalanan. Padahal, mereka butuh perhatian dan tidak dapat mencari uang dengan cara yang lain.   
 Namun sebenarnya mereka pun terpaksa untuk melakukan pekerjaan hal tersebut, jika bisa mereka ingin mencari sebuah pekerjaan yang lebih layak. Contoh lainnya, mungkin kita seringkali bercekcok hargadengan tukang reparasi payung untuk mendapatkan harga semurah-murahnya dalam memperbaiki payung. Padahal, harga yang kita ributkan itu tidaklah seberapa jika kita bandingkan dengan gaya hidup kita yang mewah dimana kita seringkali membeli barang-barang yang manfaatnya tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan keahlian mereka dalam memperbaiki payung dan manfaat dari payung itu sendiri. 
  Mungkin saja kita tidak pernah terpikirkan oleh diri kita jika pada hari itu,dia tidak menemukan pelanggan lain selain kita maka mungkin dia tidak akan membawa sepeser uang pun. Bisa kita bayangkan betapa beratnya dia untuk menafkahi keluarganya dengan penghasilannya yang pas-pasan dan tidak menentu dalam setiap harinya. Apakah orang-orang  mungkin sudah melupakan ajaran sosial yang telah kita terima sejak SD itu atau apakah orang-orang berpikiran bahwa dia hidup semata-mata untuk  mencari kepuasan diri dan memenuhi kepentingan dirinya sendiri???

Beberapa faktor yang mempengaruhi orang saat ini kurangnya memiliki sifat saling berbagi antar sesama :
Kurangnya memiliki rasa empati
Yang jelas salah satu penyebab kurangnya kepedulian dan perhatian manusia terhadap sesamanya adalah kurangnya atau bahkan tidak adanya rasa empati dari dirinya. Empati lebih dalam dari rasa simpati, dimana seseorang benar-benar merasakan posisi dan kondisi yang sedang dialami orang lain. Seseorang yang tidak memiliki rasa empati dalam dirinya, tidak akan mampu merasakan penderitaan atau kesusahan yang sedang dialami oleh orang lain. Akibatnya, dia tidak akan berbelas kasihan bahkan terkesan cuek ketika menyaksikan sesamanya mengalami kesusahan. Dia tidak akan merasa terpanggil untuk memberikan bantuan kepada sesama mereka itu. Kita sebagai manusia dipanggil untuk mengasah rasa empati kita setiap saat dalam kehidupan yang kita jalani sehingga kita mampu merasakan penderitaan yang dialami oleh orang lain dan dapat berbelas kasihan kepada mereka yang membutuhkan bantuan.
Keegosentrisan terhadap diri sendiri
“Paling enak itu jadi orang cueknggak peduli sama orang lain. Buat apa mikirin orang lain? Cape sendiri… elu jalanin hidup lu sendiri, gue jalanin hidup gue.” Itulah komentar yang belakangan ini sering kita dengar dari mulut manusia. Keegoisan manusia yang menganggap dirinya paling penting dan kepentingan orang lain adalah nomor dua membuat hilangnya kepedulian. Manusia terlalu memikirkan dirinya sendiri dan terlalu tidak mau tahu tentang orang lain. Manusia lebih mengutamakan kepuasan dirinya sendiri, mencari uang, dan membeli televisi yang berharga 70juta misalnya. Padahal, sejak manusia dilahirkan, Tuhan pun sudah mengingatkan bahwa manusia dilahirkan dengan memiliki keterikatan dengan orang lain. Bayangkanlah apabila ketika ibu kita akan melahirkan kita, di sana tidak  ada bidan ataupun dokter yang mendampinginya, apakah ibu kita akan melahirkan dengan lancar? Tentunya, diperlukan orang lain yang dapat membantu ibu kita sehingga dapat melahirkan secara normal. Manusia dalam hidupnya selalu membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, kita tidak seharusnya menyepelekan  atau cuek terhadap orang lain. Kita harus sadar bahwa kita memerlukan orang lain dan orang lain juga memerlukan kita. Sudah seharusnya kita saling membantu dengan sesama kita dan mengesampingkan ego-ego kita. Apakah kita akan memilih perbuatan baik atau ego kita sendiri?
Konsistensi
Selain egois, kadang-kadang manusia juga munafik. Sebenarnya, kita sudah tahu bahwa sejak kecil kita diperintahkan untuk saling mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri dan kita juga meyakini kebenaran hal tersebut, tetapi dalam kenyataannya kita tidak mau melakukan hal itu. Kita lebih tertarik untuk melakukan hal-hal untuk memuaskan diri kita sendiri. Mungkin, sering kita mengucapkan perintah untuk saling mengasihi sesama ini, tapi hal itu diucapkan hanya oleh mulut saja tapi tidak dengan hati dan perbuatan. Di dalam hal ini, manusia diingatkan untuk konsisten bahwa apa yang telah kita yakini dan ucapkan haruslah nyata dalam tindakan. Berbicara tentang konsistensi, kita diingatkan oleh cerita orang-orang Farisi dalam Alkitab. Mereka melakukan segala sesuatu bukan karena didorong oleh panggilan hati yang jernih, melainkan sekedar sebagai kewajiban keagamaan. Lebih jauh, malah, mereka melakukan banyak hal supaya dilihat orang. Di sini, terlihat ketidak-konsistenan antara yang diyakini dengan yang dilakukan. Minimal, terjadi pembelokkan tujuan. Puasa yang seharusnya dilakukan sebagai bagian dari hubungan yang khusus dengan Tuhan, kini dijadikan sarana pameran kesalehan. Ini jelas suatu ketidak-konsistenan. Mereka mengajarkan Firman Allah tetapi tidak melakukannya.  Mereka suka sekali menjadi guru tapi tidak suka menjadi teladan. Seharusnya apa yang diyakini harus terlihat dalam semua tingkah laku, dan dilakukan dengan motivasi yang benar. Perintah Tuhan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri adalah imperatif kategoris dimana perintah ini mutlak dilakukan untuk menjamin suatu kondisi yang baik. Janganlah kita menjadi orang yang tidak konsisten karena jika demikian kita telah mengambil langkah menuju kemunafikan.

No comments:

Post a Comment